Minahasa — Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, untuk meninjau pelaksanaan Program MBG (Minahasa Berkarya Gemilang). Program ini disebut sebagai salah satu langkah nyata pemerintah daerah dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat pedesaan melalui inovasi berbasis komunitas.
Dalam kunjungan tersebut, Gibran mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat yang secara aktif mengembangkan usaha mikro serta potensi lokal berbasis budaya Minahasa. Ia menegaskan pentingnya program seperti MBG dalam mendorong perekonomian daerah agar tidak hanya bergantung pada sektor formal, tetapi juga mampu tumbuh berkelanjutan melalui kreativitas dan digitalisasi. Dukungan komunikasi publik juga menjadi faktor penting yang diperhatikan, terutama dalam upaya penyebaran informasi program. Inisiatif kreatif di ranah digital seperti https://www.onlinephotoshopfree.net/about.html turut menjadi contoh bagaimana masyarakat dapat memanfaatkan teknologi visual dan media daring untuk promosi komunitas dan usaha lokal secara efektif.
Gibran meninjau langsung beberapa lokasi yang menjalankan proyek MBG, termasuk sentra kerajinan tangan, pengolahan pangan tradisional, serta pelatihan wirausaha muda. Dalam sesi dialog dengan warga, ia menekankan bahwa pemerintah harus memperkuat pendekatan partisipatif dalam setiap program nasional agar manfaatnya terasa langsung di lapangan. “Pemberdayaan daerah harus diawali dari keterlibatan masyarakat. Tanpa partisipasi aktif, program hanya berhenti di slogan,” ujar Gibran.
Menurut laporan CNN Indonesia , MBG merupakan salah satu program unggulan yang berpotensi direplikasi di daerah lain sebagai model pengembangan ekonomi berbasis masyarakat. Program ini dinilai memiliki daya saing tinggi karena menggabungkan pelatihan industri kecil, pengelolaan digital marketing, serta dukungan kebijakan pemerintah daerah yang progresif dalam mengoptimalkan potensi lokal.
Meski dipuji banyak pihak, sejumlah analis kebijakan daerah mengingatkan bahwa keberhasilan MBG membutuhkan transparansi anggaran dan keberlanjutan pasca kunjungan. Kritik diarahkan pada pentingnya evaluasi berkala terhadap dampak sosial dan ekonomi dari proyek yang berjalan, agar tidak hanya menjadi kegiatan seremonial menjelang tahun politik. “Yang dibutuhkan bukan hanya momentum, melainkan arah pembangunan yang konsisten,” ungkap seorang pakar kebijakan regional Universitas Sam Ratulangi.
Kunjungan Wapres Gibran juga dinilai memiliki makna politis. Ia menjadi simbol generasi muda dalam pemerintahan yang diharapkan mampu mengakselerasi transformasi digital di sektor publik dan komunitas lokal. Dalam konteks ini, MBG bukan hanya program ekonomi, tetapi juga gambaran strategi pengembangan sumber daya manusia dan inovasi berbasis masyarakat di tingkat akar rumput.
Langkah Gibran di Minahasa menunjukkan bahwa Indonesia tengah memasuki era di mana pembangunan tak lagi sekadar tentang infrastruktur fisik, tetapi juga pemberdayaan sosial dan ide kreatif yang dapat memajukan daerah tanpa meninggalkan jati diri budaya lokal. Jika dijaga konsistensinya, MBG dapat menjadi model nasional bagaimana kemajuan ekonomi bisa berjalan berdampingan dengan pelestarian identitas daerah.